PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
Belakangan ini orang yang
menggunakan teknonolgi berbasis multimedia ternyata bukan hanya sarjana lulusan
multimedia saja, atau orang – orang yang pernah mengikuti kursus komputer saja,
akan tetapi banyak dari kalangan lulusan pesantren pun walaupun kesehariannya
hanya mempelajari – kitab – kitab kuning saja, bahkan dalam kurikulum
lembaganya pun tidak ada kurikulum berbasis multimedia tetapi mereka mampu
menggunakan multimedia, bahkan ada ulama yang kitab – kitabnya pun cukup dengan
sebuah laptop yang di dalamnya sudah di instal program Maktabah Syamilah yang
memuat beribu – ribu kitab.
Hal ini lah yang mendorong kelompok
kamu untuk meneliti ada apa dan bagaimana sampai bisa terjadi demikian. Maka
kami mengadakan penelitian di Pondok Pesantren Miftahul Huda yang terletak di
Desa Kalimanggis kecamatan Manonjaya Kabupaten Tasikmalaya, dimana Pesantren
ini telah berhasil mencetak para alumninya sehingga mampu berkiprah di tengah –
tengah masyarakat, bahkan tidak sedikit para alumninya yang berkiprah di
pemerintahan.
Hingga saat ini Pesantren Miftahul
Huda telah memiliki 1500 lebih Pesantren Cabang yang tersebar di Pulau jawa
terutama Jawa Barat dan Pulau Sumatera bahkan kini sedang menggalakan program
pemukiman alumninya ke Pulau Kalimantan.
1.2 Perumusan Masalah
Dalam
penyusunan makalah ini, penulis merumuskan permasalan yang akan di bahas
kedalam poin – poin sebagai berikut :
1.
Profile Pesantren Miftahul Huda
2.
Pendidikan
Multimedia di Miftahul Huda
3.
Kelebihan
sistem yang teklah ada
4.
Kekurangan
Sistem yang telah ada
5.
Pentingnya
multimedia bagi lulusan Pesantren
6.
Langkah
– langkah yang pernah dilakukan
7.
Inovasi
baru yang mungkin bisa di lakukan
1.3 Tujuan Penulisan Makalah
1.
Sebagai
Study banding pembelajaran Multimedia di lembaga lain
2.
Mencari
Inovasi baru dalam pembelajaran multimedia di sebuah lembaga
|
PEMBAHASAN
2.1 Profile Pondok Pesantren Miftahul Huda
Pondok Pesantren
Miftahul Huda adalah lembaga pendidikan Agama Islam yang terletak di Desa
Kalimanggis Kecamatan manonjaya Kabupaten Tasikmalaya. Jarak dari Pusat Kota
Manonjaya hanya sekitar 0,5 Km. Pondok pesantren Miftahul Huda didirikan
pada tanggal 07 Agustus 1967 oleh KH.
Choer Affandy beserta Hj. Shofiyah. Pada saat ini Miftahul Huda di huni oleh
3000 orang Santri/Pelajar yang berdatangan dari tiap – tiap daerah yang ada di
Pulau jawa Sumatera dan Kalimantan. Miftahul Huda memusatkan kegiatannya pada
pengkajian ajaran agama Islam dengan menggunakan metode Salafiyah yaitu dengan
menggunakan literatur – literatur klasik atau kitab kuning, selain itu,
Miftahul Huda mempunyai tujuan Santri – santrinya selain pandai dalam Ilmu
Agama juga pandai dalam Ilmu pengetahuan umum baik itu ilmu Astronomi maupun
ilmu geografi juga bisa berbicara Bahasa Arab dan Inggris. Sistem pendidikannya
telah disusun oleh pendirinya dalam Pola Dasar Pendidikan Miftahul Huda. Dari
Pola Dasar Pendidikan ini kemudian di kembangkan lagi dalam Silabus serta
pengembangan Silabus yang di buat setiap awal tahun ajaran baru.
Jenjang
Pendidikannya telah menggunakan sistem semiformal sehingga terbagi dalam tiga
tahapan pendidikan yang masing – masing tahapan harus di tempuh selama tiga
tahun. Tahapan tersebut adalah :
1.
Madrasah
Ibtida
2.
Madrasah
Tsanawi
3.
Ma’had
‘Aly
Tujuan dari Pendidikan Pondok Pesantren Miftahul Huda
adalah :
1.
Mencetak
Ulamaul Amilin yaitu seorang manusia yang luas ilmunya serta dapat mengamalkan
ilmu yang telah dimilikinya,
2.
Mencetak
Imamal Muttaqin, yaitu pemimpin orang – orang yang bertaqwa,
3.
Mencetak
Muttaqin, yaitu pribadi yang bertaqwa.
Dalam
pelaksanaannya penggunaan komputer di Miftahul Huda menggunakan sistem komputer
jaringan lokal dengan menggunakan peralatan Wifi sehingga setiap komputer dari
tiap bagian yang ada di Pesantren satu sama lain saling terhubung dan terhimpun
dalam satu komputer penyimpan data utama yaitu server.
2.2 Pendidikan Multimedia di Miftahul Huda
Pada Dasarnya Pendidikan multimedia tidak digalakan dilingkungan
Pondok Pesantren Miftahul Huda, hal ini dapat di lihat dengan tidak adanya
kurikulum atau pun kegiatan ektrakulikuler yang mengatur tentang pendidikan
ini. Namun karena perkembangan zaman sehingga penggunaan komputerpun semakin
banyak dilakukan maka hal ini mendorong kepada setiap setiap komponen yang ada
dilingkungan Pesantren ini untuk dapat menguasai teknik penggunaan komputer
tersebut.
Kebanyakan
pengguna – pengguna Komputer dilingkungan pesantren mereka tidak mempelajarinya
secara khusus dengan bersekolah ke jurusan multimedia ataupun sekolah kursus
komputer, tetapi mereka belajar secara otodidak.
Hal ini, dimulai
dari Kiayinya sendiri, sebagai contoh KH. Asep Ahmad Maoshul Affandy yaitu
pimpinan umum Pesantren sepeninggal Almarhum KH. Choer Affandy, beliau sangat
mahir dalam komputer, bidang yang beliau perdalam dari computer adalah sistem
broadcasting sehingga beliau bisa membentuk sebuah team atau kelompok Usaha
yang dinamakan dengan Vista muda yang membawahi MHCR {Miftahul Huda Computer
Rental} dan RASIMUDA { radio Siaran Miftahul Huda }. Dengan mendirikan kelompok
ini, beliau secara tidak langsung telah memberikan pendidikan multimedia kepada
para santri yang menjadi petugas di Rasimuda ataupun di MHCR.
Wakil Pimpinan
Umum KH. Abdul Aziz Affandy adalah seorang pemegang adminstrasi Data Pesantren,
setiap hari beliau memantau Pendataan santri memlalui User Adminstrator dalam
sistem computer jaringan. Yang beliau Pantau adalah Data Statistik Pesantren
yang di usrusi oleh Sekretaris, Data Nilai Santri yang diurusi oleh Bagian
Pendidikan, Data Keluar masuk keuangan Pesantren yang diurusi oleh Bendahara,
dan Data akhlaq santri yang di urusi oleh Bagian Keamanan. Dengan adanya sistem
jaringan komputer ini maka secara tidak langsung mengajari para santri yang
menjadi stap pada bagian tersebut untuk bisa mengelola Data – Data tersebut.
Setiap santri yang
diterjunkan untuk mengurusi data – data tersebut semuanya tidak mendapat
pelajaran khusus tentang Multimedia, akan tetapi mereka mempunyai keyakinan
terhadap firman Alloh
لا
يكلف الله نفسا الا وسعها
Artinya : Alloh tidak akan membebani seseorang
kecuali dengan diberi kemampuannya.
Dengan
berbekal keyakinan akan firman Alloh tersebut, serta dengan modal ketafwidannya
kepada Guru, setiap santri yang di tugas untuk mengurusi job tertentu berani
dan mau melaksanakan tugas yang dibebankan kepadanya. Kemudian Pimpinan Umum
sering mengingatkan kepada para personalia kepengurusan dengan Janji Alloh Swt
ان
تنصروا الله ينصركم ويثبت اقدامكم
Artinya : Jika
kamu sekalian menolong Agama Alloh maka Alloh akan menolong kamu sekalian serta
menetapkan kaki – kaki kamu sekalian.
Mengurusi santri adalah sama dengan menolong agama Alloh dan itu
diperintahkan oleh Alloh, jadi pada hakikatnya ketika Guru memerintah kepada
Santrinya untuk membantunya mengurus Santri yang lain itu adalah perintah dari
Alloh.
Jika orang menjalankan perintah Alloh dan menjauhi larangannya maka
itulah hakikat dari taqwa, sementara Alloh telah menjanjikan bagi orang
bertaqwa adalah dengan akan di berikannya beribu – ribu solusi dari setiap
permasalahan yang di hadapi ;
ومن يتق الله يجعل له مخرجا
Artinya
: Barangsiapa yang bertaqwa kepada Alloh maka Alloh akan menjadikan baginya
jalan keluar.
Dengan
berbekal yakin atas janji – janji Alloh di atas, maka mereka belejar mengurusi
para santri baik berupa bimbingan atau berupa ketertiban adminstrasinya.
Bagi santri yang mendapatkan tugas untuk menjadi
Sekretaris pesantren maka Ia dituntut untuk dapat menguasai multimedia dengan
berbagai aplikasinya dari mulai microsoft word untuk kepentingan Surat –
menyurat kelembagaan atau pembuatan arsip – arsip pesantren. Kemudian dia juga
harus bisa menguasai microsoft Exel untuk kepentingan pembuatan Pengusulan RAB
dalam sebuah kegiatan yang akan dilaksanakan, juga harus menguasai Corel Draw
untuk kepentingan pembuatan kartu Tanda Anggota Santri secara manual atau
pembuatan editing benner untuk setiap kegiatan kepesantrenan, Juga harus
menguasai Corel Photo paint dan Acdcee untuk Photo editing, Selain itu juga dia
Harus menguasai aplikasi editing Video baik itu menggunakan Corel Uled atau pun
dengan Corel Pro editing karena sebagain tugas sekretaris Pesantren adalah
sebegai penyimpan Dokumen Pesantren baik itu Dolumen teks, Dokumen Photo,
ataupun Dokumen Video.
Untuk mengejar taget diatas, seorang Santri yang
ditugaskan menjadi sekretaris Pesantren biasanya suka belajar secara otodidak
sambil terus menjalani tugas hariannya, dia mengotak – atik aplikasi yang telah
ada di Komputer jika tidak mengerti maka Ia akan bertanya kepada Seniornya yang
telah lebih lama berkecimpung di Dunia perkomputeran atau dia akan membeli Buku
petunjuk penggunaan aplikasi tersebut atau membeli CD yang berisi Video
tutorial penggunaan aplikasi yang sedang dipelajarinya. Oleh karena telah
terdesak oleh kebutuhan akan penguasaan aplikasi tersebut karena telah di
tunggu oleh tugas yang harus Ia kerjakan, maka Ia akan bersungguh – sungguh
dalam mempelajari setiap Aplikasi yang di butuhkannya sehingga dengan waktu
yang relativ singkat Ia bisa menguasai aplikasi – aplikasi yang di butuhkan
untuk pekerjaannya.
Seorang santri yang ditugaskan untuk menjadi
bendahara Pesantren Ia dituntut untuk mengetahui aplikasi Komputer yaitu
Microsoft Exel dan rumus – rumusnya untuk menghitung pemasukan dan pengeluaran
uang serta persentase Uang yang harus disalurkannya. Tentunya sistem ini
membutuhkan kemmapuan Khusus dibidang acontans karena dengan Santri ribuan
tentu uang yang dihitung nya pun bukan hanya ribuan tapi telah mencapai ratusan
juta Rupiah. Dengan tugas yang telah menunggu maka Ia akan dengan cepat
mempelajari aplikasi tersebut dengan sungguh – sungguh baik itu dengan bertanya
pada seniornya ataupun dengan mempejari dari Buku yang dibelinya.
Yang di sebutkan di sini adalah hanya sebagai contoh
keberadaan pembelajaran Multimedia dilingkungan Pondok Pesantren Miftahul Huda.
2.3 Kelebihan dari Sistem ini
Kelebihan dari sistem ini adalah cepatnya
pembelajaran yang dijalani seorang santri serta langsung kepada praktek tidak
banyak bergullat dengan teori, dan dengan metode ini seorang santri yang
mendalaminya akan bisa dengan mudah menguasai setiap aplikasi yang
dipelajarinya serta hemat biaya tidak usah membayar biaya kursus computer
ataupun biaya sekolah kejuruan komputer, dengan tetap tinggal di Pesantren
serta tetap mengikuti kegiatan Pesantren, di sela – sela tugasnya dia Bisa
mempelejari komputer yang di pegangya dengan leluasa.
2.4 Kekurangan dari sistem ini
Kekurangan dari sistem ini adalah banyak sekali
diantaranya adalah :
1.
Tidak
semua santri mendapatkan keesempatan ini, karena hanya santri yang ditugaskan
lah yang akan mendapatkan kesempatan untuk mempelajari komputer secara bebas
sementara yang lainnya tidak kebagian giliran
2.
Santri
yang mendapat kesempatan ini pun tidak semuanya dapat menguasai aplikasi –
aplikasi yang dibutuhkan untuk tugas
tugasnya, hanya mereka yang ulet lah yang akan dengan mudah
menguasainya.
3.
Dengan
belajar sendiri seperti ini, bisa jadi Ia mampu menguasai aplikasi – aplikasi
yang dipelajarinya akan tetapi sulit baginya untuk berbagi ilmu kepada yang
lainnya karena dia tidak tahu metode apa yang harus disampaikan dalam
pengajaran komputer karena dia sendiri tidak pernah belajar secara berkala.
Jadi kebanyakan kemampuannya hanya bisa untuk dirinya sendiri.
4.
Secara
Praktek kadang dia akan bisa tapi secara teori serta istliah – istilah computer
yang sering digunakan oleh kebanyakan orang kadang tidak mengetahuinya.
2.5 Pentingnya ilmu Multimedia bagi Lulusan Pesantren
Sudah menjadi kebiasaan bahwa Lulusan Pondok
Pesantren akan mendirikan Pesantren lagi di Daerah tempat tinggalnya atau
meneruskan Pesantren yang di pegang oleh Orang Tuanya atau Mertanya.
Seorang
Lulusan Pesantren, untuk bisa mengelola sebuah lembaga Pondok pesantren,
disamping ia harus mengusai berbagai macam disiplin Ilmu agama untuk di
transperkan kepada para santrinya, Ia juga harus bisa menguasai multimedia
dengan berbagai aplikasinya.
Terkadang
pemerintah Daerah ataupun pemerintah Pusat hendak memberikan bantuan Pinansial
untuk sebuah lembaga Pondok Pesantren baik itu untuk penambahan sarana belajar
atapun perbaikan sarana yang telah ada. Sedangkan yang namanya pemerintah,
untuk mengeluarkan Dana itu harus ada bukti pisik permintaan dari lembaga yang
akan dibantunya, maka biasanya pemerintah suka meminta kepada pimpinan Pondok
Pesantren tersebut untuk membuat sebuah Proposal pengajuan. Untuk pembuatan
proposal ini diperlukan keahlian dibidang komputer yaitu penguasaan Microsoft
Word untuk pengetikan serta penguasaan Microsoft Exel untuk pembuatan Rencana
Anggaran Belanjanya {RAB}. Maka mau tidak mau Kiyai harus mampu menguasasai
aplikasi ini sehingga dia tidak usah menyuruh orang lain untuk pembuatannya.
Dalam
pelaksanaan pembangunan di pondok pesantren biasanya tidak menggunakan jasa seorang
Insinyur untuk membuat perencanaan Pembangunan, tetapi biasanya di rencanakan
oleh Pimpinan Pondok itu sendiri, maka untuk keperluan itu Kiyai harus dapat
menguasai Google Sketcup yanng biasa di gunakan oleh para Insinyur, sehingga Ia
bisa mendesain dan merencanakan bagunan yang akan Dia bangun sesuai dengan
keinginannya.
Seorang
Pimpinan Pesantren harus bisa mengatur sebuah perencanaan pelaksanaan sebuah
kegiatan dengan membagikan tugas /memploting Job Discription kepada para
bawahannya, ini membutuhkan aplikasi MindManager, maka Dia harus bisa menguasai
aplikasi Mindmanager.
Terkadang
Kiyai juga mendapat permintaan dari masyarakatnya untuk menyiarkan setiap
pengajian santrinya sehingga bisa didengar oleh masyarakat, dan untuk ini dia
harus dapat menguasai aplikasi Broadcasting biasanya yang banyak digunakan
adalah program Jazleer broadcasting.
2.6
Langkah – langkah yang pernah dilaksanakan dalam menggalakan pendidikan
Multimedia di Pesantren Miftahul Huda
Diantara
langkah yang pernah dilakukan di lingkungan Pondok Pesantren Miftahul Huda
dalam menggalakan pendidikan multimedia terhadap para santri adalah pernah
diadakannya kursus yang disponsori oleh MHCR, namun ini belum bisa melayani
santri yang jumlahnya 3000 santri, karena minimnya fasilitas komputer yang
dimiliki oleh MHCR itu sendiri. Selama tiga bulan MHCR hanya bisa melayani 10
orang santri saja.
Namun
demikian dengan dibangunnya MHCR ini lumayan bisa melayani para santri yang mau
belajar secara otodidak. Setiap jam buka, MHCR selalu di penuhi oleh para
santri yang mau belajar computer atau hanya browsing internet saja.
2.7 Inovasi baru untuk peningkatan pendidikan
Multimedia di Miftahul Huda
Sebagaimana di katakan di atas bahwa banyak sekali
manfaat yang di dapat dari pendidikan multimedia bagi seorang lulusan pondok
Pesantren, maka perlu adanya inovasi baru untuk peningkatan pendidikan di
bidang tersebut
Diuantara
Inovasi tersebut adalah :
1.
Membuat
kurikulum bebasis multimedia.
Dalam
menjalankan sebuah pendidikan, maka perlu adanya kurikulum sehingga program
pendidikan akan bisa terprogram serta dilaksanakan secara berkala dan
berkesinambungan. Hal ini tentu akan memakan waktu dan biaya yang cukup besar
karena membutuhkan langkah – langkah sebagai berikut :
a.
Mencetak
dulu orang yang ahli dalam bidang multimedia untuk nantinya di proyeksikan
untuk membimbing para santri dalam pembelajaran komputer. Dalam mencetak tenaga
ahli ini tentunya harus menyekolahkan dulu mereka sehingga mereka bisa
mengetahui kurikulum yang di terapkan di lembaga lain untuk bimbingan
pembelajaran multi media ini.
b.
Mengutus
orang – orang yang sudah lumayan berkompeten dalam bidang multimedia untuk
mengadakan study banding ke lembaga – lembaga lain yang sudah menggalakan
pendidikan multimedia.
c.
Proses
pembuatan kurikulum tersebut oleh orang – orang yang sudah mendapatkan
pelatihan di luar
d.
Biaya
yang diperlukan tentu besar yang meliputi Transportasi, Biaya Kursus/ Sekolah
serta jaminan kesejahteraan bagi mereka setelah mereka menjadi tutor di lembaga
ini.
2.
Membuat
kegiatan ekstrakulikuler pendidikan multimedia
Ini
adalah alternativ ke dua jika alternatif pertama tidak bisa dilaksanakan, yaitu
dengan memanfaatkan waktu – waktu libur Santri seperti hari jum’at untuk
mrngikuti kegiatn pelatihan multi media ini, jika mengunakan alternative ke dua
ini maka pembiayaan yang diperlukan adalah untuk mendatangkan tutor yang ahli
dari luar baik itu untuk jaminan transfortasinya maupun kesejahteraannya.
Akan
tetapi jika akan melaksanakan alternative ke dua ini, maka peminatnya akan
relative sedikit, mengingat biasanya pada hari libur santri suka memanfaatkan
waktu liburnya untuk berbelanja ke luar komplek atau hanya sekedar jalan –
jalan melepas kepenatan setelah selama satu minggu menjalani aktivitas belajar
dengan jadwal yang relative padat.
3.
Membuat
LAB Komputer
Mengadakan
Lab. Komputer adalah merupakan kebutuhan yang sangat primer bagi sebuah lembaga
jika ingin mengadakan pendidikan multimedia. Baik dengan alternative pertama
maupun alternative ke dua tentunya akan membutuhkan adanya Lab. Komputer
sehingga santri yang belajar computer tidak hanya belajar teorinya saja sambil
membayangkan aplikasi – aplikasi yang di pelajarinya tanpa membuka langsung
secara praktek aplikasi tersebut, hal ini selain membosankan juga akan sangat
lama bisa mencapai target yang diinginkannya.
Untuk
pengadaan Lab Computer maka akan sangat membutuhkan biaya yang relative besar.
Sebagai gambaran biaya yang akan di perlukan itu sebagai berikut :
|
NO
|
JENIS BARANG
|
BANYAK
|
HARGA SATUAN
|
JUMLAH
|
|
1
|
CPU Dual Core
|
60
|
Rp
2,500,000
|
Rp 150,000,000
|
|
2
|
Monitor Acer 14 Inci
|
60
|
Rp
1,100,000
|
Rp
66,000,000
|
|
3
|
Keyboar
|
60
|
Rp
80,000
|
Rp
4,800,000
|
|
4
|
Mouse Standar
|
60
|
Rp
50,000
|
Rp
3,000,000
|
|
5
|
Kabel Power CPU
|
60
|
Rp
10,000
|
Rp
600,000
|
|
6
|
Kabel Power LCD
|
60
|
Rp
10,000
|
Rp
600,000
|
|
7
|
Kabel CRT
|
60
|
Rp
10,000
|
Rp
600,000
|
|
8
|
Stavolt
|
60
|
Rp
450,000
|
Rp
27,000,000
|
|
9
|
Meja
|
60
|
Rp
300,000
|
Rp
18,000,000
|
|
10
|
Kursi
|
60
|
Rp
150,000
|
Rp
9,000,000
|
|
Jumlah
|
Rp 279,600,000
|
|||
|
Terbilang : Dua ratus
Tujuh puluh sebilan Juta enam ratus ribu rupiah
|
||||
Untuk menutupi biaya sebesar ini bisa
saja lembaga menggunakan jasa bank terlebih dahulu dengan meminjam. Jika saja
tidak ada Bank Syari’ah yang mau meminjamkan uang sebesar itu, maka boleh –
boleh saja lembaga memnjam dulu ke bank Konvensional walaupun ada sistem bunga
dalam pembayarannya.
Untuk menutupi nya nantinya bisa
dengan menggunakan Uang dari bayaran pembelajaran komputer dari setiap santri
dengan perhitungan sebagai berikut :
Jika saja Bank memberikan tempo
pembayaran selama dua Tahun dengan suku bunga 3 % maka berati setiap bulan
lembaga harus dapat menyetorkan dana ke Bank sebesat :
Besar
Bunga adalah 1/100 x Rp
279.600.000 = Rp 8.388.000
Besar yang Harus di bayar adalah Rp 279.600.000 + Rp
8.388.000 = Rp 287,988,000
Besar Dana yang harus di setor per bulan adalah Rp 287,988,000/12 = Rp
23,999,000
Jika jumlah santri yang ada adalah 3000 Orang Santri
maka dengan di tarik biaya perbulan
Rp 20.000 per santri saja berarti lembaga sudah
mendapat pemasukan sebesar
Rp 20.000 x 3000 Orang santri = Rp 60.000.000
Maka kebutuhan untuk menutupi pembayaran komputer ke
pihak bank, kemudian untuk kesejahteraan tutor akan dapat terpenuhi dengan
gambaran sebagai berikut
|
NO
|
JENIS KEBUTUHAN
|
BANYAK
|
HARGA
SATUAN
|
JUMLAH
|
|
1
|
Setor ke pihak Bank
|
|
|
Rp
23,999,000
|
|
2
|
Kesejahteraan Tutor
|
10
|
Rp
750,000
|
Rp
7,500,000
|
|
3
|
biaya listrik ke PLN
|
|
|
Rp
500,000
|
|
4
|
Kesejahteraan Administrator
|
2
|
Rp
500,000
|
Rp
1,000,000
|
|
5
|
Biaya Perawatan
Computer
|
|
|
Rp
1,000,000
|
|
Jumlah
|
Rp
33,999,000
|
|||
|
Terbilang : Tiga puluh
tiga juta sembilan ratus sembilan puluh sembilan ribu rupiah
|
||||
Berarti dengan kebutuhan yang hanya Rp 33,999,000 dengan
pemasukan biaya Rp 60.000.000 maka lembaga masih punya saldo simpanan sebesar
Rp 26,001,000. Jadi jika ingin di
ringankan untuk pembiayaan yang di tarik dari tiap peserta didik maka tidak
usah di tarik Rp 20.000 perorang cukup di bagikan saja jumlah kebutuhan di bagi
jumlah santri :
Rp 33.999.000 : 3000
Orang santri = Rp 11,333
Jika di bulatkan menjadi
Rp 12.000 /Santri maka lembaga akan mendapat pemasukan sebesar
Rp 12.000 x 3000 Santri
= Rp 36,000,000
Maka lembaga akan
mendapat simpanan bulanan sebesar Rp 36.000.000 – Rp 33.999.000
= Rp 2,001,000 { Dua juta seribu Rupiah }
Jadi untuk sebuah lembaga jika mau mengembangkan
kurikulum berbasis multimedia, semakin banyak pelajar yang belajar pada lembaga
itu maka semakin mudah pula untuk pengadaan barang – barang yang di perlukan.
PENUTUP
2.1
Kesimpulan
Dari hasil penelitian yang kami
lakukan ternyata kebanyakan pelajar yang ada di lingkungan Pesantren Miftahul
Huda belajar multimedia dengan secara otodidak tanpa adanya kurikulum yang di
atur oleh lembaga. Dan pembelajarn seperti ini pun tentu ada kekurangannya dan
juga ada kelebihannya, dan jika diadakan ainovasi baru baik itu dengan
pengadaan kurikulum secara terpadu dan berjenjang serta dengan diadakannya Lab
Komputer di lingkungan Pesantren maka akan semakin menambah baiklah pengetahuan
para santri di bidang multi media ini.
2.2
Rekomendasi
Al hamdulillah dengan segala keterbatasan
yang ada, penulis bisa menyelesaikan penulisan makalah ini, dengan harapan bisa
menambah khazanah keilmuan penulis khusunya umumnya rekan – rekan civitas
akademik dalam hal hal multimedia .Dan penulis berharap ada yang mau
menyempurnakan tulisan ini agar lebih sempurna dan bermanfaat.
|
Sekretaris BPH 2013 , Monografi Santri Miftahul
Huda, desember 2012
Sekretaris BPH, Progress report Pesantren Miftahul
Huda, Desember 2012
Narasumber : Enjang jamahsari, Salasatu Staf
Sekretaris BPH MH periode 2010 - 2012
Tidak ada komentar:
Posting Komentar